Ebiet G. Ade (lahir di
Wanadadi, Banjarnegara,
Jawa Tengah,
21 April 1954; umur 61 tahun) adalah seorang
penyanyi dan
penulis lagu berkewarganegaraan
Indonesia. Ebiet dikenal dengan lagu-lagunya yang bertemakan alam dan duka derita kelompok tersisih. Lewat lagu-lagunya yang ber-genre
balada, pada awal kariernya, ia memotret suasana kehidupan
Indonesia pada akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Tema lagunya beragam, tidak hanya tentang
cinta,
tetap ada juga lagu-lagu bertemakan alam, sosial-politik, bencana,
religius, keluarga, dll. Sentuhan musiknya sempat mendorong pembaruan
pada dunia
musik pop Indonesia. Semua
lagu ditulisnya sendiri, ia tidak pernah menyanyikan lagu yang diciptakan orang lain, kecuali lagu
Surat dari Desa yang ditulis oleh Oding Arnaldi dan
Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kehidupan pribadi
Terlahir dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far di Wanadadi, Banjarnegara
[1], merupakan anak termuda dari 6 bersaudara, anak Aboe Dja'far, seorang
PNS, dan Saodah, seorang pedagang kain. Dulu ia memendam banyak cita-cita, seperti
insinyur,
dokter,
pelukis.
Semuanya melenceng, Ebiet malah jadi penyanyi -- kendati ia lebih suka
disebut penyair karena latar belakangnya di dunia seni yang berawal dari
kepenyairan
[2].
Setelah lulus
SD, Ebiet masuk PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri)
Banjarnegara. Sayangnya ia tidak betah sehingga pindah ke
Yogyakarta. Sekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan melanjutkan ke
SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Di sana ia aktif di
PII (Pelajar Islam Indonesia). Namun, ia tidak dapat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi
Universitas Gadjah Mada
karena ketiadaan biaya. Ia lebih memilih bergabung dengan grup vokal
ketika ayahnya yang pensiunan memberinya opsi: Ebiet masuk FE UGM atau
kakaknya yang baru ujian lulus jadi sarjana di
Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto.
[3]
Nama Ebiet didapatnya dari pengalamannya kursus
bahasa Inggris semasa
SMA.
Gurunya orang asing, biasa memanggilnya Ebiet, mungkin karena mereka
mengucapkan A menjadi E. Terinspirasi dari tulisan Ebiet di bagian
punggung kaos merahnya, lama-lama ia lebih sering dipanggil Ebiet oleh
teman-temannya. Nama ayahnya digunakan sebagai nama belakang, disingkat
AD, kemudian ditulis Ade, sesuai bunyi penyebutannya, Ebiet G. Ade.
Kalau dipanjangkan, ditulis sebagai Ebiet Ghoffar Aboe Dja'far.
[4][5]
Sering keluyuran tidak keruan, dulu Ebiet akrab dengan lingkungan seniman muda
Yogyakarta pada tahun
1971.
Tampaknya, lingkungan inilah yang membentuk persiapan Ebiet untuk
mengorbit. Motivasi terbesar yang membangkitkan kreativitas penciptaan
karya-karyanya adalah ketika bersahabat dengan
Emha Ainun Nadjib (penyair),
Eko Tunas (
cerpenis), dan E.H. Kartanegara (penulis).
Malioboro
menjadi semacam rumah bagi Ebiet ketika kiprah kepenyairannya diolah,
karena pada masa itu banyak seniman yang berkumpul di sana.
Meski bisa membuat
puisi,
ia mengaku tidak bisa apabila diminta sekedar mendeklamasikan puisi.
Dari ketidakmampuannya membaca puisi secara langsung itu, Ebiet mencari
cara agar tetap bisa membaca puisi dengan cara yang lain, tanpa harus
berdeklamasi. Caranya, dengan menggunakan musik. Musikalisasi puisi,
begitu istilah yang digunakan dalam lingkungan kepenyairan, seperti yang
banyak dilakukannya pada puisi-puisi
Sapardi Djoko Damono.
Beberapa puisi Emha bahkan sering dilantunkan Ebiet dengan petikan
gitarnya. Walaupun begitu, ketika masuk dapur rekaman, tidak sebiji pun
syair Emha yang ikut dinyanyikannya. Hal itu terjadi karena ia pernah
diledek teman-temannya agar membuat lagu dari puisinya sendiri. Pacuan
semangat dari teman-temannya ini melecut Ebiet untuk melagukan
puisi-puisinya.
Karier
Ebiet pertama kali belajar gitar dari kakaknya, Ahmad Mukhodam, lalu belajar gitar di Yogyakarta dengan
Kusbini. Semula ia hanya menyanyi dengan menggelar pentas seni di Senisono,
Patangpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta dan juga di
Jawa Tengah, memusikalisasikan puisi-puisi karya
Emily Dickinson,
Nobody,
dan mendapat tanggapan positif dari pemirsanya. Walau begitu ia masih
menganggap kegiataannya ini sebagai hobi belaka. Namun atas dorongan
para sahabat dekatnya dari PSK (Persada Studi Klub yang didirikan oleh
Umbu Landu Paranggi)
dan juga temannya satu kos, akhirnya Ebiet bersedia juga maju ke dunia
belantika musik Nusantara. Setelah berkali-kali ditolak di berbagai
perusahaan rekam, akhirnya ia diterima di Jackson Record pada tahun
1979.
[6]
Jika semula Ebiet enggan meninggalkan pondokannya yang tidak jauh
dari pondok keraton, maka fakta telah menunjuk jalan lurus baginya ke
Jakarta. Ia melalui rekaman demi rekaman dengan sukses. Sempat juga ia
melakukan rekaman di
Filipina untuk mencapai hasil yang lebih baik, yakni album
Camellia III. Tetapi, ia menolak merekam lagu-lagunya dalam
bahasa Jepang, ketika ia mendapat kesempatan tampil di depan publik di sana.
Pernah juga ia melakukan rekaman di
Capitol Records,
Amerika Serikat, untuk album ke-8-nya
Zaman. Ia menyertakan
Addie M.S. dan
Dodo Zakaria sebagai rekan yang membantu musiknya.
Lagu-lagunya menjadi trend baru dalam khasana musik pop Indonesia.
Tak heran, Ebiet sempat merajai dunia musik pop Indonesia di kisaran
tahun 1979-
1983. Sekitar 7 tahun Ebiet mengerjakan rekaman di Jackson Record. Pada tahun
1986,
perusahaan rekam yang melambungkan namanya itu tutup dan Ebiet terpaksa
keluar. Ia sempat mendirikan perusahaan rekam sendiri EGA Records, yang
memproduksi 3 album,
Menjaring Matahari,
Sketsa Rembulan Emas, dan
Seraut Wajah.
Sayang, pada tahun
1990,
Ebiet yang "gelisah" dengan Indonesia, akhirnya memilih "bertapa" dari
hingar bingar indutri musik dan memilih berdiri di pinggiran saja. Baru
pada tahun
1995 ia mengeluarkan album
Kupu-Kupu Kertas (didukung oleh
Ian Antono, Billy J. Budiardjo (alm),
Purwacaraka, dan
Erwin Gutawa) dan
Cinta Sebening Embun (didukung oleh Adi Adrian dari
KLa Project). Pada tahun
1996 ia mengeluarkan album
Aku Ingin Pulang (didukung oleh Purwacaraka dan
Embong Rahardjo). Dua tahun berikutnya ia mengeluarkan album
Gamelan yang memuat 5 lagu lama yang diaransemen ulang dengan musik
gamelan oleh Dwiki Darmawan dan Kiwir. Pada tahun
2000 Ebiet mengeluarkan album
Balada Sinetron Cinta dan tahun
2001 ia mengeluarkan album
Bahasa Langit, yang didukung oleh
Andi Rianto , Erwin Gutawa dan
Tohpati. Setelah album itu, Ebiet mulai lagi menyepi selama 5 tahun ke depan.
Ebiet adalah salah satu penyanyi yang mendukung album
Kita Untuk Mereka, sebuah album yang dikeluarkan berkaitan dengan terjadinya
tsunami 2004,
bersama dengan 57 musisi lainnya. Ia memang seorang penyanyi yang
terilhami oleh alam, sosial, ketuhanan dan kemanusiaan sehingga wajar
ada beberapa lagunya yang terinspirasi oleh bencana alam, sehingga
lagu-lagunya sering menjadi tema bencana.
Pada tahun
2007, ia mengeluarkan album baru berjudul
In Love: 25th Anniversary (didukung oleh
Anto Hoed),
setelah 5 tahun absen rekaman. Album itu sendiri adalah peringatan buat
ulang tahun pernikahan ke-25-nya, bersama pula 13 lagu lain yang masih
dalam aransemen lama.
[7]
Kemunculan kembali Ebiet pada 28 September 2008 dalam acara Zona 80 di
Metro TV cukup menjadi obat bagi para penggemarnya. Dengan dihadiri para sahabat di antaranya
Eko Tunas, Ebiet G Ade membawakan lagu lama yang pernah popular pada dekade 80-an
https://id.wikipedia.org/wiki/Ebiet_G._Ade